Apa itu Madzi


v  Pengertian Madzi


Madzi adalah cairan bening, halus dan lengket yang keluar ketika adanya dorongan syahwat, seperti bercumbu, mengingat jima’ (persetubuhan) atau menginginkannya. Keluarnya madzi tidak memancar dan tidak diakhiri dengan rasa lemas atau kendornya syahwat, bahkan terkadang seseorang tidak merasakan keluarnya madzi. Air ini terjadi pada kaum lelaki maupun kaum wanita, akan tetapi lebih sering pada kaum wanita. Air tersebut adalah najis berdasarkan kesepakatan ulama.


v  Dasar Hukum atau Dalil

Madzi adl cairan yg hampir mirip dgn mani. Beda madzi lbh tipis dan tdk pekat. Keluar madzi ini tdk terasa dan keluar ketika seseorang bersyahwat sebelum dia bercampur dgn istri atau di luar jima’.
Kaum muslimin bersepakat bahwa madzi itu najis sebagaimana dinukilkan Imam an-Nawawi dlm al-Majmu’. Juga datang dalil yg menunjukkan najis madzi dlm hadits yg dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah dari hadits ‘Ali radliyallahu ‘anhu ketika ‘Ali menyuruh seorang shahabi Miqdad ibnul Aswad utk menanyakan tentang madzi ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Beliau menjawab :

Hendak dia mencuci kemaluan dan berwudhu.
Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah mengatakan dlm Ihkamul Ihkam: “Dari hadits ini diambil dalil tentang najis madzi di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan utk mencuci kemaluan yg terkena madzi tersebut.”
Satu hal yg perlu kita ketahui madzi ini menimpa laki2 maupun wanita namun lbh sering dan kebanyakan terjadi pada wanita seperti yg dikatakan Imam Nawawi rahimahullah dlm Syarah Muslim.

v  Tata cara membersihkan yang terkena Madzi

Dari Sahl bin Hunaif, beliau berkata,
“Dulu aku sering terkena madzi sehingga aku sering mandi. Lalu aku menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kejadian yang menimpaku ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Cukup bagimu berwudhu ketika mendapati seperti ini.’ Aku lantas berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika ada sebagian madzi yang mengenai pakaianku?’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Cukup bagimu mengambil air seukuran telapak tangan, lalu engkau perciki pada pakaianmu ketika engkau terkena madzi’.”
Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menjelaskan bahwa jika madzi cuma diperciki saja, maka itu sudah cukup untuk menghilangkan najisnya. … Ini menunjukkan bahwa memercikinya termasuk kewajiban. Madzi adalah najis yang ringan, sehingga diberi keringanan cara menyucikannya.”
Ini adalah perilaku terhadap pakaian yang terkena madzi, yaitu cukup diperciki. Sedangkan kemaluannya cukup dibersihkan dan bersucinya adalah dengan berwudhu, tanpa perlu mandi besar.

v  Hukum Madzi
Menurut pendapat ulama yang terpilih air mani statusnya suci. Dalilnya adalah riwayat ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:
“Rasulullah biasanya mencuci pakaiannya yang terkena mani. Setelah itu baru kemudian berangkat menuju shalat dengan tetap mengenakan pakaian tersebut. Sementara aku masih melihat bekas bilasan pada pakaian tersebut.” (H.R Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan:
“Aku pernah mengerik bekas mani yang tersisa pada pakaian Rasulullah, lalu beliau kenakan untuk shalat.”
SEDANGKAN
Madzi statusnya najis berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Saya adalah seorang pria yang sering mengeluarkan madzi. Karena itu saya pun menyuruh Miqdad menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda, cukup berwudhu saja!” (H.R Bukhari)
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan beliau untuk mencuci zakar dan buah pelir lalu berwudhu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu ‘Uwanah dalam Al-Mustakhrij.

 Tulisan Hardianto Prambudi


SILAHKAN COPY JIKA ARTIKEL INI MENARIK NAMUN HARAP CANTUMKAN SUMBERNYA




Artikel terkait:

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

terima kasih telah berkunjung sobat.
Silahkan komentar,kritik dan sarannya
setidaknya tegur sapa.heheh