Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

MAKALAH AQIDAH KELUARGA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
          Sebuah masyarakat di negara manapun adalah kumpulan dari beberapa keluarga. Apabila keluarga kukuh, maka masyarakat akan bersih dan kukuh. Namun apabila rapuh, maka rapuhlah masyarakat. Menikah memang tidaklah sullit, tetapi membangun keluarga sakinah bukan sesuatu yang mudah. Pekerjaan membangun, pertama harus didahului dengan adanya gambar yang merupakan konsep dari bangunan yang diinginkan. Demikian juga membangun keluarga sakinah, terlebih dahulu orang harus memiliki konsep tentang keluarga sakinah.
          .Al-Qur’an membangunkan sebuah keluarga yang sakinah dan  kuat untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang memelihara aturan-aturan Allah dalam kehidupan. Aturan yang ditawarkan oleh Islam menjamin terbinanya keluarga bahagia, lantaran nilai kebenaran yang dikandunginya, serta keselarasannya yang ada dalam fitrah manusia. Hal demikianlah yang mendasari kami menulis makalah ini. Pada makalah ini akan diuraikan tentang keluarga sakinah, dan konsep-konsep cara membangun keluarga sakinah berdasarkan Al-Qur’an.
1.2.       Rumusan Masalah
          Makalah ini merupakan beberapa permasalahan sebagai berikut :
  1. Apa pengertian keluarga?
  2. Apa saja fungsi keluarga?
  3. Apa pengertian keluarga sakinah?
  4. Bagaimana cirri-ciri keluarga sakinah?
  5. Bagaimana cara membangun keluarga sakinah?
  6. Faktor apa saja yang berhubungan dengan pembentukan keluarga sakinah?
1.3.       Ruang Lingkup
Dalam makalah ini, kami membatasi masalah mengenai keluarga sakinah dan konsep membangun keluarga sakinah berdasarkan Al-Qur’an. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempertegas pembahasan sehingga dapat terfokus pada masalah yang akan dibahas serta dapat memberikan gambaran umum tentang isi makalah sehingga pembaca lebih mudah dalam mempelajarinya.
1.4.       Maksud dan Tujuan
Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi dan melengkapi salah satu tugas mata kuliah Agama Islam di Bina Sarana Informatika. Sedangkan tujuan dari penulisan tugas ini adalah :
  1. Memahami hakekat keluarga
  2. Memahami fungsi-fungsi keluarga
  3. Memberikan uraian tentang konsep keluarga sakinah dan bagaimana cara membangun keluarga sakinah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1      Fungsi Keluarga
          Masyarakat adalah cerminan kondisi keluarga, jika keluarga sehat berarti masyarakatnya juga sehat. Jika keluarga bahagia berarti masyarakatnya juga bahagia. Selain sebagai penentu kondisi masyarakat tersebut, keluarga juga mempunyai beberapa fungsi lain dari sudut pandang yang berbeda, yaitu :
  • Fungsi Reproduksi  keluarga mempunyai fungsi produksi, karena keluarga dapat menghasilkan keturunan secara sah.
  • Fungsi Ekonomi kesatuan ekonomi mandiri, anggota keluarga mendapatkan dan membelanjakan harta untuk memenuhi keperluan
  • Fungsi Protektif keluarga harus senantiasa melindungi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis dan psiko sosial. Masalah salah satu anggota merupakan masalah bersama seluruh anggota keluarga.
  • Fungsi Rekreatif Keluarga merupakan pusat rekreasi bagi para anggotanya. Kejenuhan dapat dihilangkan ketika sedang berkumpul atau bergurau dengan anggota keluarganya.
  • Fungsi Afektif  Keluarga memberikan kasih sayang, pengertian dan tolomg menolong diantara anggota keluarganya, baik antara orang tu terhadap anak-anaknya maupun sebaliknya.
  • Fungsi Edukatif Keluarga memberikan pendidikan kepada anggotanya, terutama kepada anak-anak agar anak-anak tumbuh menjadi anak yang mempunyai budi pekerti luhur. Sehingga keluarga merupakan tempat pendidikan yang paling utama.
 2.2         Pengertian Keluarga Sakinah
          Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, juga. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.
          Keluarga sakinah juga sering disebut sebagai keluarga yang bahagia. Menurut pandangan Barat, keluarga bahagia atau keluarga sejahtera ialah keluarga yang memiliki dan menikmati segala kemewahan material. Anggota-anggota keluarga tersebut memiliki kesehatan yang baik yang memungkinkan mereka menikmati limpahan kekayaan material. Bagi mencapai tujuan ini, seluruh perhatian, tenaga dan waktu ditumpukan kepada usaha merealisasikan kecapaian kemewahan kebendaan yang dianggap sebagai perkara pokok dan prasyarat kepada kesejahteraan (Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, 1993 : 15).
          Pandangan yang dinyatakan oleh Barat jauh berbeda dengan konsep keluarga bahagia atau keluarga sakinah yang diterapkan oleh Islam. Menurut Dr. Hasan Hj. Mohd Ali (1993: 18 – 19) asas kepada kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga di dalam Islam terletak kepada ketaqwaan kepada Allah SWT. Keluarga bahagia adalah keluarga yang mendapat keredhaan Allah SWT. Allah SWT redha kepada mereka dan mereka redha kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: “Allah redha kepada mereka dan mereka redha kepada- Nya, yang demikian itu, bagi orang yang takut kepada-Nya”. (Surah Al-Baiyyinah : 8).
          Menurut Paizah Ismail (2003 : 147), keluarga bahagia ialah suatu kelompok sosial yang terdiri dari suami istri, ibu bapak, anak pinak, cucu cicit, sanak saudara yang sama-sama dapat merasa senang terhadap satu sama lain dan terhadap hidup sendiri dengan gembira, mempunyai objektif  hidup baik secara individu atau secara bersama, optimistik dan mempunyai keyakinan terhadap sesama sendiri.
          Dengan demikian, keluarga sakinah ialah kondisi sebuah keluarga yang sangat ideal yang terbentuk berlandaskan Al-Quran dan Sunnah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kebendaan bukanlah sebagai ukuran untuk membentuk keluarga bahagia sebagaimana yang telah dinyatakan oleh negara Barat.
2.3         Ciri-Ciri Keluarga Sakinah
          Pada dasarnya, keluarga sakinah sukar diukur karena merupakan satu perkara yang abstrak dan hanya boleh ditentukan oleh pasangan yang berumahtangga. Namun, terdapat beberapa ciri-ciri keluarga sakinah, diantaranya :
a.             Rumah Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah
          Asas yang paling penting dalam pembentukan sebuah keluarga sakinah ialah rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan Sunnah dan bukannya atas dasar cinta semata-mata. Ia menjadi panduan kepada suami istri sekiranya menghadapi perbagai masalah yang akan timbul dalam kehidupan berumahtangga.


          Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya :
“Kemudian jika kamu selisih faham / pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasulullah (Sunnah)”.

b.             Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)
Tanpa ‘al-mawaddah’ dan ‘al-Rahmah’, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan tenang dan aman terutamanya dalam institusi kekeluargaan. Dua perkara ini sangat-sangat diperlukan kerana sifat kasih sayang yang wujud dalam sebuah rumah tangga dapat melahirkan sebuah masyarakat yang bahagia, saling menghormati, saling mempercayai dan tolong-menolong. Tanpa kasih sayang, perkawinan akan hancur, kebahagiaan hanya akan menjadi angan-angan saja.
c.              Mengetahui Peraturan Berumahtangga
Setiap keluarga seharusnya mempunyai peraturan yang patut dipatuhi oleh setiap ahlinya yang mana seorang istri wajib taat kepada suami dengan tidak keluar rumah melainkan setelah mendapat izin, tidak menyanggah pendapat suami walaupun si istri merasakan dirinya betul selama suami tidak melanggar syariat, dan tidak menceritakan hal rumahtangga kepada orang lain. Anak pula wajib taat kepada kedua orangtuanya selama perintah keduanya tidak bertentangan dengan larangan Allah.
Lain pula peranan sebagai seorang suami. Suami merupakan ketua keluarga dan mempunyai tanggung jawab memastikan setiap ahli keluarganya untuk mematuhi peraturan dan memainkan peranan masing-masing dalam keluarga supaya sebuah keluarga sakinah dapat dibentuk.

Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’: 34 yang artinya :
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”.
 d.             Menghormati dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak
Perkawinan bukanlah semata-mata menghubungkan antara kehidupan kedua pasangan tetapi ia juga melibatkan seluruh kehidupan keluarga kedua belah pihak, terutamanya hubungan terhadap ibu bapak kedua pasangan. Oleh itu, pasangan yang ingin membina sebuah keluarga sakinah seharusnya tidak menepikan ibu bapak dalam urusan pemilihan jodoh, terutamanya anak lelaki. Anak lelaki perlu mendapat restu kedua ibu bapaknya karena perkawinan tidak akan memutuskan tanggungjawabnya terhadap kedua ibu bapaknya. Selain itu, pasangan juga perlu mengasihi ibu bapak supaya mendapat keberkatan untuk mencapai kebahagiaan dalam berumahtangga.
Firman Allah SWT yang menerangkan kewajiban anak kepada ibu bapaknya dalam Surah al-Ankabut : 8 yang artinya :
“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepadadua orang ibu- bapanya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku khabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”
e.              Menjaga Hubungan Kerabat dan Ipar
          Antara tujuan ikatan perkawinan ialah untuk menyambung hubungan keluarga kedua belah pihak termasuk saudara ipar kedua belah pihak dan kerabat-kerabatnya. Karena biasanya masalah seperti perceraian timbul disebabkan kerenggangan hubungan dengan kerabat dan ipar.
2.4         Cara Membangun Keluarga Sakinah
          Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata upaya mewujudkan keluarga yang sakinah bukanlah perkara yang mudah, ditengah-tengah arus kehidupan seperti ini,. Jangankan untuk mencapai bentuk keluarga yang ideal, bahkan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga saja sudah merupakan suatu prestasi tersendiri, sehingga sudah saat-nya setiap keluarga perlu merenung apakah mereka tengah berjalan pada koridor yang diinginkan oleh Allah dalam mahligai tersebut, ataukah mereka justru berjalan bertolak belakang dengan apa yang diinginkan oleh-Nya.
          Islam mengajarkan agar keluarga dan rumah tangga menjadi institusi yang aman, bahagia dan kukuh bagi setiap ahli keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan atau unit masyarakat yang terkecil yang berperan sebagai satu lembaga yang menentukan corak dan bentuk masyarakat. Institusi keluarga harus dimanfaatkan untuk membincangkan semua hal sama ada yang menggembirakan maupun kesulitan yang dihadapi di samping menjadi tempat menjana nilai-nilai kekeluargaan dan kemanusiaan. Kasih sayang, rasa aman dan bahagia serta perhatian yang dirasakan oleh seorang ahli khususnya anak-anak dalam keluarga akan memberi kepadanya keyakinan dan kepercayaan pada diri sendiri untuk menghadapi berbagai persoalan hidupnya. Ibu bapak adalah orang pertama yang diharapkan dapat memberikan bantuan dan petunjuk dalam menyelesaikan masalah anak. Sementara seorang ibu adalah lambang kasih sayang, ketenangan dan juga ketenteraman.
          Al-Qur’an merupakan landasan dari terbangunnya keluarga sakinah, dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam keluarga dan masyarakat. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada lima, yaitu :
·         memiliki kecenderungan kepada agama
·         yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda
·         sederhana dalam belanja
·         santun dalam bergaul dan
·         selalu introspeksi.
          Sedangkan Konsep-konsep cara membangun keluarga sakinah adalah :
a.             Memilih Kriteria Calon Suami atau Istri dengan Tepat
          Agar terciptanya keluarga yang sakinah, maka dalam menentukan kriteria suami maupun istri haruslah tepat. Diantara kriteria tersebut misalnya beragama islam dan shaleh maupun shalehah; berasal dari keturunan yang baik-baik; berakhlak mulia, sopan santun dan bertutur kata yang baik; mempunyai kemampuan membiayai kehidupan rumah tangga (bagi suami).
Rasul Allâh SAW bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti bahagia.”
b.             Dalam keluarga Harus Ada Mawaddah dan Rahmah
          Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai.
          Rasa damai dan tenteram hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.
Firman Allah SWT Surat Ar-Rum : 21 yang artinya :
 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”
c.              Saling Mengerti Antara Suami-Istri
Seorang suami atau istri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau istri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula istri. Seorang suami atau istri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :
  • Perjalanan hidup masing-masing
  • Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami istri berbeda suku dan atau daerah)
  • Kebiasaan masing-masing
  • Selera, kesukaan atau hobi
  • Pendidikan
  • Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.


d.             Saling Menerima
          Suami istri harus saling menerima satu sama lain. Suami istri itu ibarat satu tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si istri suka warna putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keredhaan dan saling pengertian, jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka aka terlihat keindahannya.
e.              Saling Menghargai
Seorang suami atau istri hendaklah saling menghargai:
  • Perkataan dan perasaan masingmasing
  • Bakat dan keinginan masing-masing
  • Menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan suami-istri.

f.                 Saling Mempercayai
Dalam berumahtangga seorang istri harus percaya kepada suaminya, begitu pula dengan suami terhadap istrinya ketika ia sedang berada di luar rumah. Jika diantara keduanya tidak adanya saling percaya, kelangsungan kehidupan rumah tangga berjalan tidak seperti yang dicita-citakan yaitu keluarga yang bahagia dan sejahtera. Akan tetapi jika suami istri saling mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan akan meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.

g.             Suami-Istri Harus Menjalankan Kewajibanya Masing-Masing
Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Allah SWT dalam hal ini berfirman: “Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka” (Qs. an-Nisaa’: 34).
Menikah bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya.
Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat. Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.

 h.             Suami Istri Harus Menghindari Pertikaian
Pertikaian adalah salah satu penyebab retaknya keharmonisan keluarga, bahkan apabila pertikaian tersebut terus berkesinambungan maka dapat menyebabkan perceraian. Sehingga baik suami maupun istri harus dapat menghindari masalah-masalah yang dapat menyebabkan pertikaian karena suami dan istri adalah fakkor paling utama dalam menentukan kondisi keluarga.
Rasulullah saw bersabda:
 “Laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindas keluarganya, menyayangi dan tidak berlaku zalim pada mereka.” (Makarim Al-Akhlaq:216-217)
 “Barangsiapa yang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allah akan memberinya pahala seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub (a.s) yang tabah dan sabar menghadapi ujian-ujian Allah yang berat. (Makarim Al-Akhlaq:213)
 “Barangsiapa yang menampar pipi isterinya satu kali, Allah akan memerintahkan malaikat penjaga neraka untuk membalas tamparan itu dengan tujuh puluh kali tamparan di neraka jahanam.” (Mustadrak Al- Wasail 2:550)
i.               Hubungan Antara Suami Istri Harus Atas Dasar Saling Membutuhkan
          Seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna ( Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat:187), yaitu menutup aurat, melindungi diri dari panas dan dingin, dan sebagai perhiasan. Suami terhadap istri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika istri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepadaorang lain, begitu juga sebaliknya. Jika istri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Istri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan istri, jangan terbalik di luaran tampil menarik orang banyak, di rumah “nglombrot” menyebalkan.
j.               Suami Istri Harus Senantiasa Menjaga Makanan yang Halal
          Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila annar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.
k.             Suami Istri Harus Menjaga Aqidah yang Benar
          Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, majig dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah hidup tidak rasional, tetapi juga bias menyesatkan pada bencana yang fatal.
          Membina suatu keluarga yang bahagia memang sangat sangat sulit. Akan tetapi jika masing-masing pasangan mengerti konsep-konsep keluarga sakinah seperti yang telah diuraikan di atas, Insya Allah cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal dalam aturan syari’at Islam, yang disebutkan dengan “Rumahku adalah surgaku” akan terwujud.
          Disamping konsep-konsep diatas masih ada beberapa resep yang lain bagaimana menjadi keluarga sakinah, diantaranya :
  • Selama menempuh hidup berkeluarga, sadarilah bahwa jalan yang akan kita lalui tidaklah melulu jalan yang bertabur bunga kebahagiaan tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.
  • Ketika biduk rumah tangga oleng, janganlah saling berlepas tangan, tetapi sebaliknya justru semakin erat berpegangan tangan.
  • Ketika kita belum dikaruniai anak, cintailai istri atau suami dengan sepenuh hati.
  • Ketika sudah mempunyai anak, jangan bagi cinta kepada suami atau istri dan anak-anak dengan beberapa bagian tetapi cintailah suami-istri dan anak-anak dengan masing-masing sepenuh hati.
  • Ketika ekonomi keluarga belum membaik, yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami istri kepada Allah Swt.
  • Ketika ekonomi sudah membaik, jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi ketika menderita (justru godaan banyak terjadi disini, ketika hidup susah, suami selalu setia namun ketika sudah hidup mapan dan bahkan lebih dari cukup, suami sering melirik yang lain dan bahkan berbagi cinta dengan wanita yang lain)
  • Jika anda adalah suami, boleh bermanja-manja bahkan bersifat kekanak-kanakan kepada istri dan segeralah bangkit menjadi pria perkasa secara bertanggung-jawab ketika istri membutuhkan pertolongan.
  • Jika anda seorang istri, tetaplah anda berlaku elok, tampil cantik dan gemulai serta lemah lembut, tetapi harus selalu siap menyeleaikan semua pekerjaan dengan sukses.
  • Ketika mendidik anak, jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.
  • Jika anda wanita, ketika ada PIL, jangan diminum, cukuplah suami anda yang menjadi “obat”.
  • Jika anda lelaki, ketika ada WIL, jangan pernah ajak berlayar sebiduk berdua ke samudra cinta, cukuplah istri anda sebagai pelabuhan hati.
2.5         Faktor yang Berhubungan dengan pembentukan Keluarga Sakinah
Membina sebuah keluarga bahagia dalam rumahtangga bukanlah suatuperkara yang mudah. Terdapat banyak faktor yang mendorong pasangan suami istri boleh membentuk keluarga bahagia yang diredhai Allah SWT. Antara faktor-faktor yang dinyatakan dalam kajian ini ialah faktor suami istri, faktor keilmuan, faktor hubungan ahli kerabat, dan faktor ekonomi.
a.             Faktor Suami Istri
Suami istri merupakan tunjang utama dalam pembentukan sebuah keluarga bahagia. Damainya sebuah institusi perkawinan itu bergantung kepada hubungan dan peranan suami istri untuk membentuk keluarga masing-masing. Ibu bapak atau ketua keluarga perlu memainkan peranan terutamanya saling hormat-menghormati di antara satu sama lain karena anak-anak akan mudah terpengaruh dengan tingkah laku mereka.
          Walaupun ketenteraman rumahtangga tanpa krisis dan kesepahaman merupakan ateri penyumbang kepada kebahagiaan rumahtangga, tetapi tanggung jawab suami istri seharusnya tidak ditepikan. Suami istri perlu menjalankan tanggungjawab sebagai suami, istri, dan tanggung jawab bersama.
          Suami merupakan ketua keluarga yang memainkan peranan paling penting untuk membentuk sebuah keluarga bahagia. Suami yang bahagia ialah suami yang sanggup berkorban dan berusaha untuk kepentingan keluarga dan rumah tangga yaitu memberi makan makanan yang baik untuk anak-anak dan istri, menjaga hak istri, memberi pakaian yang bersesuaian dengan pakaian Islam, mendidik anak-anak dan istri dengan didikan Islam yang benar serta memberi tempat perlindungan.
          Istri solehah ialah istri yang tahu menjaga hak suami, harta suami, anak-anak, menjaga maruah diri dan juga maruah suami serta membantu menjalankan urusan keluarga dengan sifat ikhlas, jujur, bertimbang rasa, amanah, dan bertanggungjawab. Tanggungjawab istri terhadap ahli keluarganya amatlah besar dan ia hendaklah taat terhadap segala perintah suaminya selagi tidak bertentangan dengan larangan Allah.
b.             Faktor Keilmuan
Membentuk sebuah keluarga bahagia bukanlah bergantung kepada pengalaman semata-mata. Setiap pasangan hendaklah mempunyai ilmu pengetahuan yang kukuh dalam semua aspek dan bukannya hanya mengutamakan ilmu perkawinan semata-mata. Pasangan perlu memahirkan diri dalam pelbagai bidang ilmu antaranya ilmu ekonomi, ateri, akhlak, ibadah dan sebagainya. Ilmu pengetahuan mampu menyelesaikan segala masalah yang melanda dalam rumahtangga secara rasionalnya.
Membina sebuah keluarga bahagia dengan asas yang kukuh terutamanya dengan pengetahuan keagamaan dapat menjadikan individu berfikir, dan bertindak sesuai dengan fitrah insaniah yang diberikan oleh Allah SWT. Keluarga Islam harus selalu meningkatkan kualiti pemikiran Islam yang sebenarnya sesuai dengan perubahan zaman.
BAB III
KESIMPULAN
          Keluarga adalah satu institusi sosial karena keluarga menjadi penentu utama tentang apa jenis warga masyarakat. Apabila keluarga kukuh, maka masyarakat akan bersih dan kukuh. Namun apabila rapuh, maka rapuhlah masyarakat. Begitu pentingnya keluarga dalam menentukan kualitas masyarakat, sehingga dalam pembentukan sebuah keluarga harus benar-benar mengetahui pilar-pilar membangun sebuah keluarga.
          Mewujudkan keluarga sakinah adalah dambaan setiap manusia. keluarga sakinah ialah kondisi keluarga yang sangat ideal yang terbentuk berlandaskan Al-Quran dan Sunnah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kebendaan bukanlah sebagai ukuran untuk membentuk keluarga bahagia. Membangun keluarga sakinah tidaklah mudah, banyak yang mengalami kesulitan. Dasarnya, mereka harus mengetahui konsep-konsep membangun keluarga sakinah, yaitu :
  1. Memilih kriteria calon suami atau istri dengan tepat
  2. Dalam keluarga harus ada mawaddah dan rahmah
  3. Saling mengerti antara suami-istri
  4. Saling menerima
  5. Saling menghargai
  6. Saling mempercayai
  7. Suami-istri harus menjalankan kewajibanya masing-masing
  8. Suami istri harus menghindari pertikaian
  9. hubungan antara suami istri harus atas dasar saling membutuhkan
  10. Suami istri harus senantiasa menjaga makanan yang halal
  11. Suami istri harus menjaga aqidah yang benar



SILAHKAN COPY JIKA ARTIKEL INI MENARIK NAMUN HARAP CANTUMKAN SUMBERNYA

Pengukuran Tingkat Kepuasan Mahasiswa


Melalui Important and Performance Analysis dan Metode Nonparametrik
Oleh 1
Laili Qodariah
Rohmatul Fajriyah3
1,2 Jurusan Statistika FMIPA UII, Jogjakarta
Korespondensi: rfajriyah@fmipa.uii.ac.id/rfajriyah@yahoo.com

Abstrak
Persaingan yang semakin ketat, dimana semakin banyak produsen atau instansi yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, menyebabkan setiap perusahaan harus menempatkan orientasi pada kepuasan konsumen sebagai tujuan utama. Untuk memenangkan persaingan, perusahaan atau instansi harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya. Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Islam Indonesia, dimana peneliti mengadakan penelitian tentang kepuasan mahasiswa, objek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Statistika Universitas Islam Indonesia Jogjakarta.Untuk mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa Jurusan Statistika digunakan metode Important-Performance Analysis atau Analisis Tingkat Kepuasan dan Kinerja/Kepuasan Pelanggan. Hasil penelitian menyimpulkan yang menjadi Prioritas utama agar dapat dilakukan peningkatan secara terus-menerus oleh pihak Jurusan Statistika adalah Fasilitas Komputer, kelengkapan fasilitas Laboratorium Komputasi Statistika, penilaian dosen Statistika terhadap mahasiswa, keaktifan dosen Statistika dalam mengajar, asisten dalam penguasaan materi praktikum, kedisiplinan asisten dalam praktikum (waktu masuk/ selesai praktikum), fasilitas ruangan untuk kuliah, kemudahan dosen dalam membimbing (baik KP, TA, maupun akademik), dan penyampaian materi praktikum oleh asisten. Faktor yang banyak mendapat keluhan dari mahasiswa adalah jumlah komputer, yaitu sebesar 33,8 %.Melalui analisis Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney diketahui adanya perbedaan rata-rata kepuasan untuk ke empat angkatan, dimana angkatan 2001, 2002, dan 2003 memiliki rata-rata kepuasan yang sama terhadap kinerja Jurusan. Sedangkan untuk angkatan 2000 kepuasannya kurang terhadap kinerja Jurusan.


Kata kunci: Kepuasan, ISO 9000 : 2000, Important and Performance    Analysis, Diagram Pareto, Kruskal-Wallis, Mann-Whitney





1. Pendahuluan
Pendidikan adalah salah satu soal yang selalu diperhatikan oleh manusia dari zaman ke zaman. Pada mulanya orang tua mendidik anaknya hanya berdasarkan kecintaan dan pengalamannya yang merupakan petunjuk jalan dalam melaksanakan pendidikan atau memberi tuntunan kepada pertumbuhan dan perkembangan anak. Akan tetapi lambat laun manusia lalu mempertanggung jawabkan tindakannya terhadp anak, artinya bahwa orang tua menanyakan kepada dirinya sendiri, sampai seberapa jauh kebenaran atau ketepatan tindakannya. Dengan demikian timbullah disamping “Praktek Pendidikan” juga teori tentang pendidikan.
Pendidikan adalah teori (ilmu) tentang memberi tuntunan kepada anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis atau teratur oleh pikiran manusia. 
Menurut Kohsitono dan Gunaring tujuan akhir dari pendidkan adalah pembentukan manusia yang sempurna. Manusia dapat dikatakan sebagai makhluk yang sempurna apabila dalam kehidupannya dapat menunjukkan adanya keharmonisan atau keselarasan. Harmonis sebagai individu dan kehidupan bersama.
Perkembangan dan peningkatan pendidikan sebuah perguruan tinggi dari tahun ke tahun menjadi perhatian masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari ketatnya persaingan kualitas pelayanan, harga, promosi, dan mutu diantara sekian banyak perguruan tinggi. Peranan perguruan tinggi sebagai sarana untuk mencetak kader-kader pemimpin bangsa menjadi penting bagi dunia. Dalam kondisi persaingan yang ketat ini, hal utama yang harus diprioritaskan oleh sebuah perguruan tinggi adalah kepuasan mahasiswa agar dapat bertahan, bersaing dan menguasai ilmu dan teknologi lewat  pendidikan.
Sarana dan prasarana pendidikan yang belum memadai dapat berpengaruh pada proses belajar-mengajar, untuk itu sarana dan prasarana pendidikan sangat penting untuk memperlancar dalam proses belajar mengajar di kampus. Dalam kesempatan kali ini peneliti telah meneliti sejauh mana  mahasiswa Jurusan Statistika merasa puas dengan sarana dan prasarana yang ada di Jurusan Statistka. Pada hal jika dilihat dari tujuan jurusan, salah satunya adalah memberikan pelayanan yang terbaik untuk mahasiswanya, yang menyangkut dengan hal-hal yang berhubungan dengan mahasiswa, seperti prihal akademik, kuliah, fasilitas, dosen, dan lain-lain. Apakah dengan sarana dan prasarana yang ada sudah dapat memuaskan mahasiswa, atau sebaliknya.

2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan masalah yang menjadi sentral dalam penelitian ini adalah :
1.      Sejauh mana tingkat kepuasan mahasiswa Statistika terhadap kinerja Jurusan Statistika ditinjau dari kesenjangan antara jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan
2.      Manakah yang menjadi prioritas utama agar dapat dilakukan peningkatan secara terus menerus (Continual Improvement)
3. Teori Penunjang
3.1. Pengertian Kepuasan.
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja /hasil yang dirasakannya dengan harapannya (Oliver, 1980). Jadi tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan, maka pelanggan akan kecewa. Bila kinerja sesuai harapan, maka pelanggan akan puas. ISO 9000 : 2000 menyatakan bahwa organisasi bergantung pada pelanggannya oleh karena itu hendaknya memahami kebutuhan pelanggan saat ini dengan yang akan datang, dan juga memnuhi serta berusaha melampaui harapan pelanggan.
Pada sebuah perguruan tinggi yang sudah menerapkan ISO, maka untuk memuaskan mahasiswanya menjadi bagian sentral dari kegiatan pemasarannya. Jika seorang mahasiswa merasa puas atas pelayanan yang telah diberikan, pada umumnya ia tidak akan berpindah ke perguruan tinggi lain. Jika hal itu terjadi, maka pihak perguruan tinggi harus mencari mahasiswa baru agar sirkulasi sebuah perguruan tinggi tidak berhenti. Pada akhirnya, kegiatan untuk menarik mahasiswa baru untuk menggantikan mahasiswa yang beralih / pindah ke perguruan tinggi lain adalah lebih mahal daripada upaya  untuk mempertahankan mahasiswa lama akan lebih besar dibandingkan dengan tingkat keuntungan jika perguruan tinggi harus mencari pelanggan baru.

3.2. Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data penelitian ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Untuk menjawab perumusan masalah mengenai sampai sejauh mana tingkat kepuasan mahasiswa Jurusan Statistika terhadap Jurusan Statistika Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, maka digunakan Importance Performance Analysis (Martila and James, 1997) atau Analisis Tingkat Kepentingan dan Kinerja / kepuasan pelanggan, di sini adalah kepuasan mahasiswa Statistika.
Jasa akan menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila didasarkan pada kepentingan pelanggan dan kinerjanya bagi perusahaan. Artinya perusahaan seharusnya mencurahkan perhatiannya pada hal-hal yang memang dianggap penting oleh para pelanggannya / mahasiswa. Dalam hal ini, digunakan skala 4 tingkat (Likert) yang terdiri dari : Sangat penting, Penting, Kurang penting dan Tidak penting. Ke-empat penilaian tersebut diberi bobot sebagai berikut :
a.       Jawaban Sangat Penting (SP) diberi bobot 4
b.      Jawaban Penting (P) diberi bobot 3
c.       Jawaban Kurang  Penting (KP)  diberi bobot 2
d.      Jawaban Sangat Tidak Penting (TP) diberi bobot 1
Untuk kinerja / penampilan diberikan empat penilaian dengan bobot sebagai berikut :
a.       Jawaban Sangat Setuju diberi bobot 4, berarti mahasiswa sangat puas
b.      Jawaban Setuju diberi bobot 3, berarti mahasiswa puas
c.       Jawaban Kurang Setuju diberi bobot 2, berarti mahasiswa kurang puas
d.      Jawaban Tidak Setuju diberi bobot 1, berarti mahasiswa tidak puas

Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan hasil penilaian kinerja maka akan dihasilkan suatu perhitungan mengenai tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaannya oleh Jurusan Statistika Universitas Isalam Indonesia.
Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor kinerja pelaksanaan dengan skor kepentingan. Tingkat kesesuaian inilah yang akan menentukan urutan prioritas peningkatan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa
Dalam hal ini terdapat 2 buah variabel yang diwakilkan oleh huruf  X dan Y, dimana : X merupakan tingkat kinerja jurusan yang dapat memberikan kepuasan para mahasiswanya, sedangkan Y merupakan tingkat kepentingan mahasiswa.
Adapun rumus yang dipergunakan dalam pengukuran Tingkat Kesesuaian Responden (TKR) adalah

Dimana, TKR adalah Tingkat Kesesuaian Responden (i=1,2,………………n), Xi adalah Skor penilaian kinerja jurusan dan Yi  adalah Skor penilaian kepentingan mahasiswa
Selanjutnya sumbu mendatar (X) akan diisi oleh skor tingkat pelaksanaan, sedangkan sumbu tegak (Y) akan diisi oleh skor tingkat yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa dengan  dan . Dimana  adalah Skor rata-rata tingkat kepuasan,   adalah Skor rata-rata tingkat kepentingan dan n adalah Jumlah sampel.
Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang dibagi atas empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titik-titik  , dimana  merupakan rata-rata dari rata-rata skor tingkat kepuasan mahasiswa seluruh faktor atau atribut dan  adalah merupakan rata-rata skor tingkat kepentingan seluruh faktor yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa.
Selanjutnya tingkat unsure-unsur tersebut akan diajbarkan dan dibagi menjadi empat bagian ke dalam diagram kartesius seperti pada gambar berikut :
  Kepentingan
Y








Prioritas       Utama
Pertahankan prestasi




             IV                    
                 I



               =







               Y









             III
                 II





Prioritas   Rendah
            Berlebihan










Kinerja /kepuasan



               =

_





               X

X



Gambar : Diagram Kartesius dalam bentuk Kuadran-kuadran

Keterangan :
I.                    Menunjukkan unsure jasa pokok yang telah berhasil dilaksnakan pihak jurusan, untuk itu wajib dipertahankan. Dianggap sangat penting dan sangat memuaskan.
II.                 Menunjukkan factor yang mempengaruhi pelanggan kurang puas, akan tetapi pelaksanaannya berlebihan. Dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan.
III.               Menunjukkan beberapa factor yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan, pelaksanaannya oleh jurusan biasa-biasa saja. Dianggap kurang penting dan kurang memuaskan
IV.              Menunjukkan factor atau atribut yang dianggap mempengaruhi kepuasan pelanggan, termasuk unsure-unsur jasa yang dianggap sangat penting, sehingga mengecewakan /tidak puas.

Untuk melakukan suatu peningkatan atau perbaikan dapat menggunakan Prinsip Pareto, yang menyatakan bahwa sekitar 80% dari masalah disebabkan oleh 20% dari penyebab. Vilfredo Pareto, seorang ahli ekonomi Italia pada abad ke-19 menemukan bahwa terbasar dari kesejahteraan dimiliki oleh beberapa orang saja, sehingga menimbulkan maldistribusi dari kesejahteraan. Kunci peningkatan proses pertama kali adalah mengidentifikasi area uatama itu. Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh grafik batang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang yang terendah serta ditempatkan pada sisi paling kanan
Pada dasarnya diagram pareto dapat dipergunakan sebagai alat interprestasi untuk :
a.       Menentukan frekuensi relatif dan urutan pentingnya masalah-masalah atau penyebab-penyebaab dari masalah yang ada
  1. Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui ranking terhadap masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah itu dalam bentuk yang signifikan.
Untuk menjelaskan proses pembuatan diagram pareto, akan dikemukakan melalui beberapa langkah sebagai berkut :
1.      Menentukan masalah apa yang akan diteliti, mengidentifikasikan kategori-kategori atau penyebab dari maslah yang akan diperbandingkan. Setelah itu merencanakan dan melaksanakan pengumpulan data
2.      Membuat suatu ringkasan data atau table yang mencatat frekuensi kejadian dari masalah yang telah diteliti dengan menggunakn formulir pengumpulan data
3.      Membuat daftar masalah secara berurut berdasarkan frekuensi kejadian dari yang tertinggi sampai yang terendah, serta hitunglah frekuensi kumulatif, peresentasi kejadian, and total dari kejadian seacra kumulatif
4.      Menggambarkan dua buah garis vertical dan sebuah garis horizontal
5.      Buat histogram pada diagram paeto
6.      Gambarkan kurva kumulatif serta cantumkan nilai-nilai kumulatif (total kumulatif atau persen kumulaitf) disebelah kanan atas dari inteval etiap item maalah
7.      Memutuskan untuk mengambil tindakan peningkatan atas penyebab utama dari masalah yang sedang terjadi. Untuk mengetahui akar penyebab dari suatu masalah dapat menggunakan diagram sebab akibat atau bertanya mengapa-mengapa  beberapa kali (konsep why-why).

4. Data dan Pembahasan Hasil Penelitian
4.1.  Data Penelitian
               Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam penelitian ini untuk mendapatkan data digunakan angket/kuesioner.  Dari 113 (seratus tiga belas) angket yang disebar  digunakan dalam analisis data.  Namun, sebelum dilakukan penyebaran sebanyak 113 (seratus tiga belas), maka dilakukan pra-penyebaran angket untuk menguji asumsi valid (sahih) sebanyak 50 (lima puluh) dan reliabel (andal) sebanyak 50 (lima puluh)  angket/kuesioner.  Secara lengkap, data ada di Qodariah(2004).
Kuesioner yang disebarkan pada penelitian ini adalah jenis kuesioner bersifat tertutup. Dengan demikian untuk setiap pertanyaan disediakan jawaban alternatif yang paling tepat sesuai dengan pendapat responden. Jumlah pertanyaan untuk kuesioner yang valid  berjumlah 26 butir pertanyaan.
4.2.  Analisis Data dan Pembahasan
4.2.1.  Analisis Tingkat Kepentingan dan Kinerja /Kepuasan
Tabel  4.4  Perhitungan Rata-rata Dari Penilaian Pelaksanaan Dan Penilaian Kepentingan Pada Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan mahasiswa Jurusan Statistika Universitas Islam Indonesia Jogjakarta

NO
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Mahasiswa
Penilaian
Penilaian



Jurusan Statistika Universitas Islam Indonesia
Pelaksanaan
Kepentingan
x
y

I. ASPEK KURIKULUM




1
Keseimbangan antara teori dalam kuliah dengan
284
362
2.51
3.20

Aplikasi melalui praktikum




2
Mata kuliah yang ditawarkan di Jurusan Statistika
293
373
2.59
3.30






3
Adanya konversi
300
311
2.65
2.70
4
Pemahaman materi kuliah melalui praktikum
291
339
2.58
3.00
5
Software (Program Statistik) yang digunakan dalam praktikum
283
349
2.5
3.08
6
Modul yang dibuat oleh dosen pengampu
259
305
2.3
2.69
7
Kesesuaian modul dengan materi kuliah
298
394
2.64
3.48
8
Pengaplikasian mata kuliah melalui praktikum
276
305
2.44
2.69
9
Asisten dalam mengasisteni praktikan
251
318
2.22
2.81
10
Asisten dalam penguasaan materi praktikum
267
392
2.36
3.45
11
Penyampaian materi praktikum oleh asisten
270
368
2.38
3.26
12
Kedisiplinan asisten (waktu masuk/ selesai praktikum)
261
377
2.31
3.34

II. ASPEK DOSEN




13
Penjelasan materi kuliah oleh dosen Statistika
276
380
2.44
3.36
14
Ketepatan dosen dalam mengajar dengan silabus
295
342
2.61
3.02
15
Kesesuaian materi dengan silabus
311
399
2.75
3.53
16
Penentuan asisten oleh pihak Laboran
267
381
2.42
3.37
17
Penilaian dosen Statistika terhadap mahasiswa
240
387
2.12
3.42
18
Pemberian tugas-tugas oleh dosen kepada mahasiswa
241
306
2.13
2.69
19
Ketepatan waktu dosen dalam mengeluarkan hasil ujian
286
391
2.53
3.46
20
Kemudahan dosen dalam membimbing (baik KP, TA,
275
376
2.43
3.32

Maupun akademik)




21
Keaktifan dosen Statistika dalam mengajar
253
396
2.26
3.50

III. ASPEK FASILITAS




22
Kenyamanan ruang kuliah
291
381
2.57
3.37
23
Fasilitas ruang kuliah
253
362
2.23
3.20
24
Kelengkapan fasilitas Laboratorium Komputasi Statistika
241
401
2.13
3.55
25
Fasilitas komputer
217
403
1.92
3.57
26
Penataan ruang Laboratorium Komputasi Statistika
282
359
2.49
3.17

Rata-rata


2.40
3.12

Dari hasil nilai rata-rata di atas, kemudian dibuatkan diagram kartesisus untuk mengetahui faktor-faktor (atribut/butir-butir) mana saja yang perlu dijadikan sebagai prioritas utama yang mendapat perhatian untuk diperbaiki agar menjadi lebih baik.
Gambar 1 Diagram Kartesius dari Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan  Mahasiswa Statistika Universitas Islam Indonesia Jogjakarta

Tabel  4.5  Hasil Analisis Dari Tingkat Kepentingan Dengan Tingkat Kinerja
Aitem ke-
Aspek Kurikulum
Kinerja
Kepentingan
Kuadran
1
2.51
3.20
II
2
2.59
2.68
IV
3
2.65
2.70
IV
4
2.58
3.00
IV
5
2.50
3.08
IV
6
2.30
2.69
III
7
2.64
3.48
II
8
2.44
2.69
IV
9
2.22
2.81
III
10
2.36
3.45
I
11
2.38
3.26
I
12
2.31
3.34
I
Aspek Dosen



13
2.44
3.36
II
14
2.61
3.02
IV
15
2.75
3.53
II
16
2.42
3.37
II
17
2.12
3.42
I
18
2.13
2.69
III
19
2.53
3.46
II
20
2.43
3.32
I
21
2.20
3.50
I
Aspek Fasilitas



22
2.57
3.37
II
23
2.23
3.20
I
24
2.13
3.55
I
25
1.92
3.57
I
26
2.49
3.17
IV

Keterangan :
I    : Kuadran I      II   : Kuadran II           III  : Kuadran III          IV  : Kuadran IV
        
Pada Diagram Kartesius diatas dapat diketahui bahwa pelayanan yang harus diadakan perbaikan adalah :
1)      Asisten dalam penguasaan materi praktikum
2)      Penyampaian materi praktikum oleh asisten
3)      Kedisiplinan asisten dalam praktikum (waktu masuk/ selesai praktikum)
4)      Penilaian dosen Statistika terhadap mahasiswa
5)      Kemudahan dosen dalam membimbing (baik KP, TA, maupun akademik)
6)      Keaktifan dosen Statistika dalam mengajar
7)      Fasilitas ruangan untuk kuliah
8)      Kelengkapan Fasilitas Laboratorium Komputasi Statistika
9)      Fasilitas Komputer
Pelayanan-pelayanan yang harus diperbaiki berdasarkan tingkat kesesuaian adalah :
1)      Fasilitas Komputer sebesar 53,84%
2)      Kelengkapan fasilitas Laboratorium Komputasi Statistika sebesar 60,09%
3)      Penilaian dosen Statistika terhadap mahasiswa sebesar 62,01%
4)      Keaktifan dosen Statistika dalam mengajar sebesar 64,65%
5)      Asisten dalam penguasaan materi praktikum sebesar 68,11%
6)      Kedisiplinan asisten dalam praktikum (waktu masuk/ selesai praktikum) sebesar 69,23%
7)      Fasilitas ruangan untuk kuliah sebesar 69,88%
8)      Kemudahan dosen dalam membimbing (baik KP, TA, maupun akademik) sebesar 73,13%
9)      Penyampaian materi praktikum oleh asisten sebesar 73,36%
Dalam analisis bentuk pertanyaan yang kedua pada romawi II dengan menggunakan diagram pareto. Hal ini berpedoman pada prinsip Pareto yang menyatakan bahwa 80% dari masalah disebabkan oleh 20% dari penyebab.

    
Gambar 3  Diagram Pareto dari Butir Ketidakpuasan Mahasiswa Statistika

Adapun urutan yang harus diperbaiki dari yang terpenting terlebih dahulu adalah :
1)      Jumlah Komputer di Laboratorium Komputasi Statistika sebesar 33.8%
2)      Ruang untuk kuliah yang terbatas (sedikit) sebesar 21.2%
3)      Tidak ada perpustakaan khusus jurusan 14,9%
4)      Dosen Statistika terbatas 14,0%
5)      Kurang aplikasi mata kuliah ke lapangan sebesar 9%
6)      Cara mengajar dosen sebesar 7,2%

4.2.2.  Uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney

Melalui uji Kruskal Wallis, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan diantara rata-rata kepuasan untuk masing-masing angkatan. Karena terdapat perbedaan, untuk selanjutnya dilakukan uji Mann-Whitney, untuk melihat, yang berbeda itu yang mana saja.
Hasil uji mann-Whitney, menunjukkan bahwa angkatan 2001, 2002 dan 2003 memiliki tingkat kepuasan yang sama yaitu sangat puas atau puas dengan kinerja Jurusan, sedangkan angkatan  2000 kepuasannya paling rendah cenderung kurang puas atau tidak puas.

5. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan analisis yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan hasil penelitian ini  sebagai berikut :
1)      Kesesuaian antara tingkat kepuasan mahasiswa  terhadap kinerja Jurusan ditinjau dari kesenjangan antara jasa pelayanan yang dialami dengan jasa pelayanan yang diharapkan rata-rata di atas 75 %, berarti bahwa kesenjangannya tidak terlalu jauh.
2)      Yang menjadi prioritas utama dalam proses peningkatan terus menerus untuk Jurusan Statistika dalam pandangan dan pendapat mahasiswa Statistika adalah : Fasilitas Komputer, kelengkapan fasilitas Laboratorium Komputasi Statistika, penilaian dosen Statistika terhadap mahasiswa, keaktifan dosen Statistika dalam mengajar, asisten dalam penguasaan materi praktikum, kedisiplinan asisten dalam praktikum (waktu masuk/ selesai praktikum), fasilitas ruangan untuk kuliah, kemudahan dosen dalam membimbing (baik KP, TA, maupun akademik), penyampaian materi praktikum oleh asisten.
3). Terdapat perbedaan dari tingkat kepuasan mahasiswa dari masing-  masing angkatan. Dimana angkatan 2001, 2002 dan 2003 memiliki tingkat kepuasan yang sama  yaitu sangat puas atau puas dengan kinerja Jurusan, sedangkan angkatan  2000 kepuasannya paling rendah cenderung kurang puas atau tidak puas. Ini disebabkan karena angkatan 2000 baru mengalami atau merasakan sarana dan prasarana dari Jurusan yang lebih baik bila dibandingkan pada saat angkatan 2000 masih merasakan fasilitas yang disediakan di gedung Fakultas Teknologi Industri, misalnya laboratorium untuk praktikum, yang masih sangat kurang pada waktu itu. Oleh sebab itu angkatan 2000 tingkat kepuasannya kurang dari  angkatan 2001, 2002, dan 2003.
4). Berdasarkan kesimpulan serta teori yang diuraikan sebelumnya, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh Jurusan Statistika dalam rangka meningkatkan kualitas Jurusan diantaranya :
a)      Perlu adanya penambahan jumlah komputer untuk digunakan sebagai sarana praktikum, karena komputer yang sekarang tersedia masih belum menunjang mahasiswa atau masih sedikit.
b)      Kelengkapan fasilitas Laboratorium Komputasi Statistika juga harus lebih ditingkatkan, selain jumlah komputer, seperti jumlah meja, kursi, dan juga fasilitas ruangannya.
c)      Asisten praktikum harus lebih diperhatikan lagi dalam hal penguasaan materi, penyampaian, dan kedisiplinan. Agar praktikan tidak merasa dirugikan karena tidak dapat menangkap atau memahami materi praktikum yang diberikan asisten. Untuk itu pihak  Laboran lebih selektif lagi dalam menentukan atau memilih asisten untuk semester-semester yang akan datang.
d)      Kemudahan dosen dalam membimbing dan keaktifan dosen dalam mengajar juga harus diperhatikan oleh pihak jurusan, karena mahasiswa juga masih tergantung pada dosen. Apabila dosennya memberikan kemudahan dan jalan kepada mahasiswa, misalnya bimbingan KP, TA, mahasiswa akan semangat untuk cepat menyelesaikan studinya.
e)      Ruangan untuk proses belajar mengajar, harus menjadi perhatian yang lebih, karena selama ini mahasiswa Statistika hanya belajar dalam ruangan yang itu-itu saja (terbatas hanya dalam ruang VIII F, dan ada untuk mata kuliah tertentu mahasiswa harus kuliah diruang Fakultas Sipil).
f)        Dengan semakin berkembangnya kemajuan dimana jika tidak di ikuti dengan rajin membaca, maka seorang mahasiswa akan ketinggalan arus informasi. Oleh karena itu perlu adanya perpustakaan khusus untuk Jurusan Statistika sendiri.

6. Daftar Pustaka
Gaspersz, V, 2001. Metode Analisis Untuk Peningkatan Kualitas, Gramedia, Jakarta.
Qodariah, L., 2004, Pengukuran Tingkat Kepuasan Mahasiswa Statistika Terhadap Jurusan Statistika Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Skripsi, Jurusan Statistika FMIPA UII, Jogjakarta
Saleh, S, 1986, Statistik Non Parametrik, BPFE, Jogjakarta.
Siegel, S, 1985. Statistik Non Parametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial, Gramedia, Jakarta  .
Supranto, J, 2001. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan, Rineka Cipta, Jakarta.
Yazid, I. N, 1981. Pengantar Ilmu Pendidikan, Lembaga Pembinaan Keagamaan, Jogjakarta.



SILAHKAN COPY JIKA ARTIKEL INI MENARIK NAMUN HARAP CANTUMKAN SUMBERNYA