Tampilkan postingan dengan label peradaban pemikiran islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peradaban pemikiran islam. Tampilkan semua postingan

sarana ghazwul fikri


 Ghozwul fikri atau perang pemikiran dimulai ketika kaum salibis dikalahkan 9 kali dalam peperangan besar oleh kaum Muslimin. Kemenangan kaum Muslimin sangat spektakuler karena semua peperangan yang terjadi diluar perkiraan akal manusia. Misalnya, kholid bin walid dengan 3000 pasukan pernah mengalahkan 100.000 pasukan romawi.

Mereka berfikir keras bagaimana cara mengalahkan umat Islam, akhirnya mereka ingin mendalami Islam terlebih dahulu. Kesungguhan kaum salibis dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa sampai di dalam sejarah diungkap seorang dari mereka rela meninggalkan anak dan istrinya hanya untuk berkeliling di negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan umat Islam. Diantara pernyataan mereka adalah, “percuma saja kita berperang melawan umat islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka (Al-qur’an dan As-Sunnah). Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa, karena itu tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka. Barulah kita mudah mengalahkan Umat Islam.” Gladstone, salah seorang perdana menteri inggris menyimpulkan, “Selama Al-qur’an ada di tangan Umat Islam, tidak mungkin eropa akan menguasai dunia timur.”

Strategi perang kemudian diubah dari perang fisik ke perang pemikiran. Berbagai upaya dibuat untuk mengalihkan umat Islam dari agamanya. Serangan dilancarkan melalui hiburan, olahraga, dan segmen yang menarik lainnya. Sehingga tanpa disadari umat Islam sudah mengikuti mereka bahkan menjadi pendukung program-program yang mereka adakan.

Beberapa jenis perang pemikiran yang perlu diwaspadai pada saat ini diantaranya:



1. Perusakan akhlak

Dalam berbagai media massa musuh-musuh Islam melancarkan program – program yang bertujuan merusak akhlak generasi muslim mulai dari anak-anak, remaja, maupun dewasa. Diantara perusakan itu adalah lewat majalah, televisi, serta musik. Dalam media-media tersebut selalu saja disuguhkan penampilan tokoh-tokoh terkenal yang pola hidupnya jelas-jelas jauh dari nilai-nilai Islam. Mulai dari cara berpakaian, gaya hidup dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan. Dengan cara itu mereka telah berhasil membuat idola-idola baru yang generasi islam berkiblat kepada mereka.

2. Perusakan Pola Fikir

Dengan memanfaatkan media, baik cetak maupun elektronik, mereka juga sengaja menyajikan berita yang tidak jelas kebenarannya, terutama yang berkenaan dengan kaum Muslimin. Seringkali mereka menyematkan gelar seperti teroris, fundamentalis, ekstrimis, islam garis keras, dll kepada kaum muslimin yang berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri mereka dari penguasaan para penjajah yang zalim. Sementara itu mereka mendiamkan setiap aksi para perusak serta penindas yang sejalan dengan mereka seperti zionis yahudi yang menjajah palestina. Berita yang sampai kepada kaum muslimin benar-benar jauh dari realitas bahkan sengaja diputarbalikkan dari kenyataan yang sesungguhnya.

3. Sekulerisasi pendidikan

Hampir diseluruh negeri muslim telah berdiri model pendidikan sekolah yang lepas dari nilai-nilai keagamaan. Mereka sengaja memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan di sekolah sehingga muncullah generasi-generasi terdidik yang jauh dari agamanya. Sekolah macam inilah yang mereka dirikan di bumi islam pada masa penjajahan (imperialisme) untuk menghancurkan islam dari tubuhnya sendiri.

4. Pemurtadan

Ini adalah program yang paling jelas kita saksikan. Secara terang-terangan orang-orang non-muslim menawarkan “bantuan” ekonomi, mulai dari bahan makanan, rumah, jabatan, beasiswa, dan lain-lain untuk menggoyahkan iman kaum muslimin.

Samuel zwemmer dalam konferensi Al-Quds untuk para pastur pada tahun 1935 mengatakan, “Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian, akan tetapi menjauhkan mereka dari agama mereka (Al-Qur’an dan Sunnah) sehingga mereka menjadi orang-orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan) menjadi terpecah-belah dan jauh dari persatuan. Dengan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian.”


http://alhikmah.ac.id

…Semoga Bermanfaat… !.Semoga Sukses.! .send komentar ya.

Dahsyatnya Ghazwul fikri

Ibarat musim, hujan lebat selalu dimulai dengan gerimis terlebih dulu. Usaha musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam tak pernah kendor.

Tak hanya fisik, ghazwul fikri pun ditempuh. Cara ini dipandang lebih efektif dan murah. LĂ­hatlah, sebelum terjadi pengeboman di JW Marriot dan Ritz Carlton. Bulan sebelumnya kita disuguhkan dengan buku Ilusi Negara Islam. Buku ini menyerang Islam politik. 

Buku tersebut diterbitkan atas kerjasama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute. Buku itu merupakan hasil penelitian yang berlangsung lebih dari dua tahun dan dilakukan oleh LibForAll Foundation. Yang menjadi editor dalam buku itu adalah Gus Dur dan yang menjadi penyelaras bahasanya adalah Mohamad Guntur Romli.

Buku berjudul lengkap Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia yang menyebutkan PKS sebagai bagian dari gerakan Islam garis keras transnasional. PKS membantah dan mengatakan, para penulis buku itu merupakan antek-antek dari mantan Presiden AS George W Bush.

Dalam kata pengantar buku itu yang ditulis oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memaparkan bahwa PKS telah melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah Juli 2005 di Malang. Saat itu, para agen kelompok garis keras seperti PKS mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi Ketua PP Muhammdiyah.

"Dugaan saya, dana riset buku itu didapatan dari Bush. Itu merupakan proyek terakhir Bush sebelum kejatuhannya. Karena Bush memiliki kebijakan perang melawan terorisme," ujar Wasekjen PKS Fahri Hamzah.

Menurut Fahri, tulisan-tulisan yang ada pada buku itu masih mengacu pada framework dunia saat Bus masih jadi Presiden AS. "Padahal kan framework dunia sudah berbeda dan tuduhan-tuduhan tentang PKS itu semuanya palsu. Saat ini dunia sudah mulai tidak terlalu menyoroti isu terorisme, bahkan dunia sudah menilai Bush sebagai penjahat perang," katanya.

Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang.

Menurut Ismail Yusanto, Jurubicara HTI,  Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. 

“Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini,” tegas Ismail Yusanto.

Dalam masalah Bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, HTI Menyerukan kepada semua pihak, khususnya kepolisian dan media massa, untuk bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton ini dengan kelompok, gerakan atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan di masyarakat dan negara ini demi mendiskreditkan organisasi Islam.

Setelah pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta, Jumat (17/7), berhasil diungkap Kepolisian. Kontroversi teror bom masih mengganggu benak umat muslim Indonesia. Kedekatan pelaku dengan Noordin M Top dan Jamaah Islamiyah (JI) seolah-olah kembali menggiring opini publik jika Islam di Indonesia identik dengan kekerasan meski tanpa bukti dan fakta yang nyata. Sehingga menyebabkan antipati publik terhadap Islam. Padahal, selama ini Islam selalu hidup damai, terbuka dan toleran.  

Yang menarik adalah kesimpulan AM Hendropriyono. Mantan Kepala BIN ini mengatakan bahwa kaum ekstrimis Islam yg terlibat teroris mancanegara berasal dari dua aliran dalam agama Islam yaitu Wahabi dan Ikhwanul Muslimin. 

Statemen AM Hendropriyono mengundang protes keras dari kalangan tertentu. “Terorisme ada di Indonesia karena suasana kondusif untuk benih-benih terorisme. Selama anasir-anasir tsb tidak dibersihkan dari bumi nusantara maka terorisme tidak akan hilang,” katanya pada Sabili yang mewawancarai Hendropriyono di Yogyakarta. 

Siapakah Wahabi?
Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Muhammad bin Abdul Wahab adalah Syekh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah, di antaranya terdapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, sebagai ajaran akidah tauhid, apa yang disampaikan Muhammad bin Abdul Wahab menyebar ke seluruh dunia Islam melalui jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Menguatnya persatuan akidah ini ternyata membawa dampak lain pada kekuatan kolonial yang saat itu berkuasa di dunia Islam. Akhirnya, Inggris ajaran akidah tauhid ini sebagai bentuk baru persatuan dunia Islam yang akan melahirkan ancaman pada kolonial. Berikutnya, kekuatan kolonial membentuk kelompok Murtaziqah (orang-orang bayaran) untuk mencemarkan nama baik dakwah. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid, para penyeru tauhid, dengan kata Wahabi. 

Pasca 9/11, sebuah buku diterbitkan oleh di AS dengan judul Wahabi Islam, ditulis seorang orientalis yang merupakan mahasiswa S3 John Esposito. Penulisnya mengatakan bahwa ia tertarik untuk meneliti Wahabisme ketika saat mengambil kuliah Islamologi dan membaca tulisan Muhammad bin Abdul Wahhab, namun tidak menemukan elemen-elemen yang menganjurkan kekerasan. Dalam salah satu babnya, ia mengatakan bahwa pengidentikan Wahabi dengan kekerasan dimulai oleh Inggris di India tahun 1800-an saat terjadi revolusi Muslim. Sejarah menyatakan tidak ada kaitan antara gerakan tersebut dan Wahabisme.

Wahabi sendiri sebenarnya suatu yang kontroversial. Orang awam cenderung mengaitkan Wahabi dengan Islam yang “bertentangan” dengan arus besar (mainstream). 

Apa yang dimaksud dengan Wahabi? Bukankah dalam berbagai kesempatan Hendropriyono mengaku bahwa dirinya berasal dari Muhammadiyah. Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah gerakan Wahabi yang gencar memerangi TBC (Tachayul, Bidah dan Churafat, dalam ejaan lama). “Yang saya maksud adalah Wahabi radikal,” katanya. 

Terminologi Wahabi yang sering dilontarkan seringkali menambah kisruh suasana. Ulama-ulama Saudi yang selalu dicap Wahabi oleh sebagian orang, dalam sejarahnya selalu mengecam dan mengritik al-Qaidah, bahkan sebelum pemboman Tanzania. 

Taliban selalu dikaitkan dengan Wahabisme. Padahal jika seseorang benar-benar mengikuti ulama Saudi, dampaknya sebenarnya mengejutkan mereka yang selalu berpikir negatif tentang Wahabi. Karena, seluruh ulama terkemuka di Saudi sepakat tindakan teror hukumnya haram. Memberontak bahkan mendemo pemerintah, atau misalnya menebarkan aib pemimpin, juga haram.

Mereka tidak suka mencaci maki pemerintah. Kritikan akan dilakukan secara tertutup (kalau bisa empat mata) dengan penguasa. Ulama mengharamkan melakukan pemberontakan (bughat) selama penguasa masih Muslim.

Suasana semakin kisruh ketika Ikhwanul Muslimin (IM) juga disatukan dalam barisan. IM didirikan untuk untuk mengembalikan kekhalifahan setelah runtuhnya kekhalifahan Usmani Turki lepas Perang Dunia I. Ikhwanul Muslimin sendiri tidak terlepas dari proses radikalisasi. Ada beberapa faktor. Salah satu faktor bersifat internal, karena ada beberapa elemen yang memang memilih jalur keras. Di IM, pemikiran radikal ini diwakili oleh misalnya Sayyid Quthb. Faktor eksternal, suatu faktor yang lebih dominan, adalah reaksi politik dari pemerintah yang cenderung menutup akses politik lawan mereka, termasuk IM. 

Faktor ini sebenarnya lebih mendorong radikalisasi. Kasus populer adalah Aljazair. Kekerasan muncul saat hasil pemilu tahun 1990an yang dimenangkan secara mutlak oleh partai Islam (FIS) dibatalkan oleh pemerintah berkuasa dan didukung oleh Barat, dan partai tersebut dinyatakan ilegal. Demikian juga di Iran saat Shah Iran.

Faktor penting yang tak bisa dikesampingkan adalah, Afghanistan. Negara ini ketika berperang dengan Komunis Soviet dijadikan sebagai laboratorium jihad oleh berbagai elemen Islam. Apalagi Amerika berada di pihak yang membantu mujahidin. 

Namun setelah kemenangan itu diraih, mujahidin banyak yang secara psikologis masih merasa berada di medan jihad. Suasana tempur tak bisa hilang begitu saja. Apalagi negara Barat berbalik menganggap Islam sebagai ancaman. Provokasi dan kezaliman muncul di negeri-negeri Islam. Maka radikalisme itu seolah mendapatkan tempat dan pupuk yang maksimal. Dan setelah itu, target dialihkan pada umat Islam yang dinyatakan radikal.

Padahal, sejarah menceritakan pada dunia bahwa radikalisme nampaknya selalu dipelihara, demi kepentingan kolonial yang selalu berganti pemainnya. Jadi lontaran statemen Wahabi memang lebih dahsyat dari bom itu sendiri. (Eman Mulyatman)

sumber : http://www.sabili.co.id

…Semoga Bermanfaat… !.Semoga Sukses.! .send komentar ya.

Bahaya Ghazwul fikri

.Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu…” (Al Baqarah [2] : 217).
Sungguh sangat menggembirakan dan membesarkan hati kita bahwa ternyata ummat Islam di Indonesia merupakan ummat mayoritas (85%). Bahkan pertumbuhannya di dunia internasional juga cukup pesat. Dari lima milyar lebih, seperlimanya adalah umat Islam. Akan tetapi, dari jumlah yang besar tersebut sedikit sekali yang kita dapati benar-benar menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Banyak yang masih salah dalam mempersepsikan ajaran Islam yang syamil tersebut. Sering kita dapati pemilah-milahan ajaran Islam, antara urusan agama dengan urusan ekonomi, budaya, politik, ataupun sisi kehidupan yang lain. 
Sebagai akibatnya dari pemahaman yang demikian akan menimbulkan kerancuan dalam berpikir dan bertindak. Di satu sisi ia sebagai seorang muslim, namun di sisi lain, aktivitasnya dalam bidang ekonomi, budaya maupun politik jauh dari ajaran Islam. Sehingga karena keadaan yang demikian itulah banyak orang Islam yang masih mudah tergiur oleh paham lain.
Empat belas abad yang lalu, di saat Islam mencapai puncaknya, Rasulullah SAW telah memprediksikan tentang nasib ummat Islam di masa yang akan datang, sebagai tanda nubuwwah beliau. Nasib ummat Islam pada masa itu digambarkan oleh Rasulullah seperti seonggok makanan yang diperebutkan oleh sekelompok manusia yang lapar lagi rakus.
Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits:
“Beberapa kelompok manusia akan memperebutkan kalian seperti halnya orang-orang rakus yang memperebutkan hidangan.” 
Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami waktu itu sedikit, ya Rasulullah?”. 
Jawab Rasul : “Tidak! Bahkan waktu itu jumlah kalian sangat banyak. Akan tetapi kalian waktu itu seperti buih lautan. Dan sungguh, rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh kalian. Dan bercokollah dalam dada kalian penyakit wahn”. 
Kemudian sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan penyakit wahn itu ya Rasulullah?”. 
Jawab beliau : “Cinta dunia dan takut mati”.
Kita bisa membayangkan bagaimana nasib seonggok makanan yang menjadi sasaran perebutan dari orang-orang kelaparan yang rakus. Tentu saja dalam sekejap mata makanan yang tadinya begitu menarik menjadi hancur berantakan tak berbekas, lumat ditelan para pemangsanya.
Demikian pula dengan kondisi ummat Islam saat ini. Ummat Islam menjadi bahan perebutan dari sekian banyak kepentingan yang apabila kita kaji lebih jauh ternyata tujuan akhirnya adalah sama, kehancuran ummat Islam !

sumber : http://arsitek-peradaban.abatasa.com 

…Semoga Bermanfaat… !.Semoga Sukses.! .send komentar ya.

Ghazwul fikri

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran". Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. 

Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development(Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai. 

Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, "Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, "Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur'an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur'an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.” 

Dalam konteks ini, al-Qur'an mengatakan, artinya, "Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka." (QS.Faathir : 6). 

Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An'aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da'wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam 'tangan' mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional. 

Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup. 

Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. 'Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada. 

Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam. 

Al-Qur'an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda'wahi ratu negeri Saba' melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da'wah sederhana antara Nabi Sulaiman 'alaihis salam dengan ratu Saba' ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda'wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini. 

Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da'i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu'min serta melecehkan al-Qur'an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’alaNa'udzu billaah min dzaalik! 

Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau 'aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana. 

Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara. 

Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya 'tokoh' Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na'udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. 

Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda'wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin (M.Hanafi Maksum)

…Semoga Bermanfaat… !.Semoga Sukses.! .send komentar ya.